Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Tuesday, March 25, 2014

Mengenal Istilah DOSIS Lebih Tepat

Sering sekali kita berbicara atau mendengar tentang dosis. Dalam hal ini paling sering yang berkaitan dengan obat. Tetapi terkadang pengertian yang berkembang di masyarakat kurang tepat. Misalnya :
Anggapan bahwa dokter luar negeri kalau memberi obat, dosisnya rendah sehingga aman. Sedangkan dokter Indonesia dianggap sering memberi obat dengan dosis tinggi. Akibatnya tak jarang ada orang Indonesia berdomisili di luar negeri yang meminta ransum obat dari dokter Jepang ketika hendak berkunjung ke Indonesia hanya untuk persiapan kalau nanti sakit di Indonesia, karena kekhawatiran kelebihan dosis jika berobat dengan dokter Indonesia.
Ukuran obat yang kecil dan imut bermakna dosis kecil.
Resep yang diberi dokter spesialis dosisnya lebih tinggi daripada dokter umum.

Benarkah demikian?

Sebenarnya apakah pengertian dosis itu?

Apakah ukuran dan bentuk obat menentukan?

Apakah dokter umum dan spesialis memiliki takaran dosis yang berbeda, lalu bagaimana jika beda negara?

Mari kita cermati bersama-sama, agar pasien dan dokter memiliki pemahaman yang sama mengenai istilah 'dosis' ini.

Definisi dosis menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI adalah :

(1) Takaran obat untuk sekali pakai (dimakan, diminum, disuntikkan, dan lain sebagainya) dalam jangka waktu tertentu.

Contohnya, pasien itu pingsan karena menelan pil melebihi dosis yang ditentukan oleh dokter;

(2) Ukuran pengobatan yang harus diberikan untuk jangka waktu tertentu (contoh radiasi atau penyinaran pada daerah atau bagian tubuh tertentu);

(3) Definisi dalam fisika jumlah energi atau tenaga yang diberikan oleh zarah pengion kepada suatu satuan massa bahan yang disinari atau diradiasi pada tempat yang diselidiki atau diminati.

Dosis adalah takaran atau ukuran suatu obat secara individual perkali atau perhari. Dengan demikian, dosis suatu obat yang sejenis haruslah tetap sama, baik dokter umum ataupun dokter spesialis yang mengobati di desa, pelosok Indonesia ataupun megapolitan seperti Tokyo.

Sehingga pernyataan bahwa dokter Indonesia sering memberi 'dosis tinggi' dapat dikatakan kurang tepat. Jika pasien diberikan dosis tinggi atau dalam hal ini dosis berlebih dari seharusnya, maka akan berbahaya bagi pasien dan tentunya dokter pemberi resep pun akan mendapat sanksi kode etik. Hal ini sering didengar dengan istilah over dosis.

Agar lebih jelas mari memahami dengan menggunakan contoh, misalnya paracetamol, salah satu obat yang paling sering dikonsumsi dengan nama dagang P*nadol, D*colgen, S*nmol dll. Dosisnya adalah 10-15mg/kg/kali. Untuk seorang anak dengan berat badan 10 kg, anak tersebut membutuhkan paracetamol 100-150 mg sekali minum agar mendapat efek yang diharapkan misalnya sebagai antipiretik atau penurun demam.

Jika kita menganggap bahwa paracetamol harus diberikan dalam dosis kecil agar aman, misalnya hanya 50 mg, tentunya efek yang diharapkan tidak akan maksimal, bahkan tidak memberikan efek apa- apa. Apalagi jika pada kasus si anak yang sakit tetapi ibunya yang meminum obat, dengan harapan obat tersebut tersalurkan melalui ASI. Begitu juga sebaliknya jika seorang dokter memberi dosis jauh diatas 150 mg, kemungkinan akan memberi efek samping. Yang harus diyakini, seorang dokter tentu tidak akan secara sengaja membahayakan pasiennya.

Lalu bagaimana untuk kasus "beda dokter" atau bahkan "beda negara"?
Jika kita lihat definisi di atas seharusnya dosis paracetamol tetap sama.

Hal yang terkadang tidak diketahui oleh masyarakat umum adalah bahwa setiap obat memiliki batas dosis tersendiri yang setiap dokter dapat memberikan obat dengan jumlah dosis berbeda tetapi masih dalam batas yang ditetapkan. Jumlah dosis ini disesuaikan dengan jenis penyakit atau tingkat keparahannya dan juga kondisi tubuh pasien yang terkadang rentan pada efek samping suatu obat tertentu. Tidak semata-mata karena dokter luar negeri, lalu memberi dosis kecil atau karena dokter spesialis lalu memberi dosis besar.

Kedua, benarkah obat imut-imut berarti dosis kecil? Tidak terlalu memberikan efek, baik efek pengobatan ataupun efek samping? Salah satu obat imut yang pernah penulis lihat adalah kodein, efek yang bisa diharapkan adalah antitusif (menekan batuk). Dibanding obat biasa, kodein ini sediaannya kecil sekali, tetapi meskipun demikian, jika penulis ingin membeli obat ini di apotik tidak mudah dan harus memperlihatkan kartu Identitas sebagai seorang dokter. Mengapa? Karena kodein ini termasuk obat dengan lingkaran merah,artinya sejenis obat keras yang memiliki efek pengobatan yang tinggi meskipun bentuknya mini. Jadi bisa ditarik kesimpulan ukuran obat tidak berimbang dengan dosis atau takaran suatu obat.

Semoga bermanfaat. :)

dimuat di fahima.org
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/dosis#ixzz2TJlL84T5
Sumber gambar : http://info-kesehatan.net

Monday, March 24, 2014

Flu dan selesma (batuk pilek)

Flu Istilah Rancu

Banyak masyarakat awam bahkan praktisi kesehatan mudah menggunakan kata flu untuk penyakit batuk pilek, sebenarnya flu itu istilah yang rancu, karena tidak semua gejala bersin, hidung tersumbat, dan batuk bisa dikatakan flu.

Flu, berasal dari istilah influenza yang merupakan salah satu jenis virus. Jadi jika kita mengatakan sakit flu, pengertiannya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Sedangkan untuk penyakit dengan gejala bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk atau kurang enak badan lebih tepat disebut dengan penyakit common cold atau selesma yang angka kejadiannya cukup tinggi terutama pada balita. Selesma/common cold merupakan gabungan berbagai gejala yang mengganggu saluran napas bagian atas, terutama selaput lendir hidung. Selesma bersifat self-limiting yang berarti ‘sembuh sendiri’ dan bisa disebabkan oleh beberapa jenis virus, diantaranya rhinovirus, coronavirus, adenovirus, respiratory syncytial virus (RSV). Uniknya, virus influenza dan parainfluenza juga bisa menyebabkan gejala selesma, terutama dengan manifestasi gejala yang lebih ringan.

Sedangkan influenza adalah penyakit infeksi pernapasan yang sangat menular dengan gejala yang lebih berat dari selesma, yaitu batuk dan pilek yang lebih berat, demam yang lebih tinggi dibanding selesma, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, bahkan bisa menyebabkan komplikasi berupa pneumonia atau radang paru. Influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A, B atau bisa juga C, namun ini jarang. Gejala yang lebih berat biasanya disebabkan oleh virus influenza tipe A, yang bisa menimbulkan wabah seperti flu burung (H5N1) atau flu babi (H1N1).

Penyebaran dapat terjadi adanya kontak langsung dan kontak tak langsung. Tubuh yang sehat memiliki daya tahan alami yang cukup kuat untuk melindunginya terhadap berbagai penyakit dan virus. Namun, bila sistem daya tahan tubuh menurun, maka virus dapat masuk dan menginvasi ke dalam sel-sel tubuh. Pertama kali, virus akan menyerang mukosa hidung, leher dan saluran pernafasan, dimana bulu-bulu getarnya dirusak. Keadaan ini timbul bila imunitas tubuh tidak baik, misal dikarenakan menderita penyakit serius, kerja fisik yang terlalu berat dan terlampau letih, kurang istirahat, banyak stres atau tidak cukup makan bergizi.

Waspadai di Musim Pancaroba

Pada musim pancaroba, termasuk musim dingin yg berubah-ubah suhunya ini, insiden penyakit selesma dan influenza meningkat. Temperatur yang sering berubah-ubah dan kelembapan yang rendah, dapat membuat daya tahan tubuh menurun dan kondisi ini juga sangat ideal bagi banyak virus untuk lebih cepat berkembang biak. Jadi tidak heran lebih banyak orang terserang penyakit pada musim pancaroba dibanding musim yang temperaturnya relatif stabil.

Balita lebih rentan terkena selesma maupun influenza., alasannya adalah
  • Sistem daya tahan tubuh masih lemah dan relatif belum matang dibandingkan orang dewasa karena masih dalam tahap tumbuh kembang
  • Diameter saluran nafas lebih kecil dari dewasa sehingga jika terjadi peradangan saluran nafas, gejala yang ditimbulkan lebih berat, misalnya sesak nafas.
  • Biasanya anak-anak suka mengkonsumsi es, snack atau makanan-makanan tertentu yang bisa merangsang batuk atau pilek bagi anak yang mempunyai riwayat alergi
  • Lingkungan yang kurang baik untuk kesehatan pernafasan misal lingkungan yang tinggi polusi, kelembapan rendah, banyak asap rokok dapat menurunkan daya tahan saluran nafas terutama pada anak.
  • Anak-anak gampang tertular dari dewasa yang menderita flu atau selesma yang tidak memakai masker saat bersin dan batuk.


Mencegah lebih baik dari mengobati

Umumnya flu dan Selesma bersifat sembuh sendiri, sehingga sasaran pengobatannya bersifat meringankan gejala. Istirahat yang cukup serta mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang sangat diperlukan untuk mempercepat penyembuhan.

Berhati-hatilah menggunakan obat-obat over the counter (OTC) untuk flu atau selesma, yang bisa dibeli sendiri tanpa resep dokter. Karena biasanya mengandung lebih dari satu zat aktif dan tak jarang mengandung zat aktif yang kurang dianjurkan untuk anak-anak yang menderita flu atau selesma biasa, misalnya antitusif, dekongestan dan antihistamin. Dekongestan biasanya digunakan pada penderita yang mengalami rhinitis alergi tahunan sedangkan antitusif (penekan batuk) digunakan pada batuk rejan, berupa batuk hebat dan terus-menerus

Pencegahan merupakan obat paling mujarab mengatasi selesma dan flu.
Hal-hal yang dapat dilakukan adalah
  1. Rajin mencuci tangan dengan sabun terutama jika baru pulang dari bepergian keluar rumah.
  2. Menghindari kontak dengan penderita influenza.
  3. Menggunakan masker, terutama dalam ruang tertutup, misal dalam kereta, mall atau ruang kerja.
  4. Makan makanan yang bergizi, perbanyak sayur dan buah yang mengandung banyak vitamin untuk membangun daya tahan tubuh
  5. Tetap olah raga teratur dan istirahat yang cukup
  6. Jika ada gejala flu, terutama demam tinggi segeralah kedokter
  7. Dianjurkan untuk vaksinasi influenza..

Vaksin flu isinya selalu berubah tiap tahun, disesuaikan dengan serotipe virus yang berkembang tahun itu. Dan yang perlu digarisbawahi adalah vaksin ini mencegah penyakit yang ditularkan oleh virus influenza dan bukan untuk mencegah semua gejala batuk pilek. Sebagaimana kita ketahui diawal bahwa selesma penyebabnya bermacam-macam, terutama rhinovirus, adapun influenza menyebabkan gejala yang lebih berat. Apalagi influenza bisa menyebabkan komplikasi radang paru terutama pada golongan yang rentan, seperti anak dengan penyakit jantung, ginjal, asma juga pada usia lanjut. Dan Komplikasi influenza inilah yang dicegah dengan pemberian vaksin inluenza.

Antisipasi Selesma/flu 

Siapkan obat-obat berikut untuk antisipasi jika flu/selesma.
  • Obat penurun panas jika temperatur diatas 38,5 C
  • Obat pengencer dahak (misalnya ambroksol dan erdostein),
  • Jika hidung tersumbat bisa menggunakan tetes hidung yang berisi cairan fisiologis dan untuk mengurangi sumbatan, posisi tidur bayi atau balita dianjurkan miring atau tengkurap.
  • Terpenting, perbanyak anak minum air putih hangat, karena selain membantu mengencerkan dahak juga bisa menurunkan panas secara lebih alami.
  • Hindari penggunaan antibiotika yang tidak diperlukan, kecuali dokter dapat membuktikan indikasi adanya infeksi bakteri.
  • Orangtua dapat memberikan multivitamin jika terdapat kesulitan asupan makan selama sakit sehingga kebutuhan vitaminnya dicukupkan dengan penambahan multivitamin.
  • Pemberian antivirus atas anjuran dokter ^_^


Semoga bermanfaat
#artikel yang mirip pernah di muat dimajalah dokter kita dan web fahima.org

Hand Foot and Mouth Disease (HFMD), atau Flu singapura




Bulan Juni-Agustus jepang memasuki musim panas dengan suhu rata-rata 33-35 derajat celcius. Berbeda musim berbeda pula jenis penyakit infeksi yang menyebar. Saat ini, dijepang terutama Tokyo dan Jepang Barat, sedang terjadi wabah/outbreaks/hayatte iru penyakit Teashikuchibyo atau HFMD.

HFMD adalah penyakit dengan gejala flu pada umumnya yaitu batuk, pilek dan demam. Namun gejala yang lebih spesifik yaitu setelah anak mengalami demam sekitar 2-3 hari, akan muncul ruam merah dan lesi (berair seperti cacar) didaerah sekitar mulut, lidah, tenggorokan dan pipi. Juga di daerah bokong, selangkangan, tangan dan kaki (pada bayi). Keluhan yang paling menganggu adalah nyeri tenggorokan, yang bisa membuat bayi menolak untuk makan minum bahkan menolak menyusui, sehingga akibat yang di khawatirkan adalah dehidrasi.

HFMD umumnya menyerang bayi dan anak-anak dibawah 5 tahun. Bisa juga menginfeksi dewasa, namun kejadian nya jarang. Penyebabnya adalah virus dari kelompok Enterovirus, yaitu poliovirus, coxsackievirus, echovirus, and enterovirus. Virus virus ini sangat gampang menular pada anak-anak, terutama yang daya tahan tubuh nya belum sempurna.

Bagaimana mencegah nya?
1. Biasakan mencuci tangan pakai sabun lebih sering, terutama jika baru dari keluar rumah.
2. Saat sedang mewabah, hindari mengajak balita ke pusat keramaian seperti taman bermain, jidoukan, termasuk kolam renang di taman.
3. Cuci mainan terutama yang sudah digigit atau kena liur anak.

Jika sudah terinfeksi penyakit ini, apa yg harus dilakukan?
Sebagaimana infeksi virus pada umumnya, insyaAllah penyakit ini akan sembuh sendiri. yang bisa kita lakukan adalah :
1. Berikan obat penurun panas sekaligus pengurang rasa nyeri.
2. Memberikan makanan yang lunak, mudah ditelan, kalau bisa makanan yang tidak perlu dikunyah. Berikan juga makanan yang sifatnya dingin seperti buah-buahan, pudding dan jeli agar anak lebih nyaman. Namun hindari makanan yang asam, pedas dan merangsang tenggorokan.

Untuk bayi di bawah satu tahun, berilah ASI lebih sering, jikalau menolak jg, perah ASI dan berikan pada bayi dengan menggunakan pipet/spuit.

Semoga bermanfaat